Selasa, 24 Februari 2015

AKU DAN PUISI DALAM SEGALA SAJAK

25-februari-2015

AKU DAN PUISI DALAM SEGALA SAJAK

PERTEMPURAN 14 JANUARI
Amnesia aku mengingatmu EM
Sebab perjuangan yang retak secara perlahan
Rambutku resah, akupun tertawa dari waktu kewaktu
Dari lafadz ke lafadz
Dari dzikir ke dzikir
Dari sujud ke doa
Dari doa menuai angka
Dari angka ke akar
Dari akar kematriks
Dari matriks kedeterminan
Aku alpa..segala rumusmu EM
Aku tak yakini ini akhir perjuangan
Meski layaknya tukang tenun aku menyulammu
Angka-angka memanjang dari urat yang tegang
Diperbatasan kurva mengelilingi sumbu X
Sejauh tiga ratus enam puluh derajat
Segala risalah dan petuah para tertua
Aku dongengkan disetiap ujung nafasku yang mengarat
Lagi-lagi aku alpa segala rumus dan bahasa tubuhmu
Aku jadikan aliran pena sebagai politik
Kedipan mata sebagai perubahan
Taktik-taktik immunisasi dan penjiplakan yang dulunya mustahil
Aku sanjung menjadi hal yang nihil
EM
Aku tak kuasa menghafal rumusmu
PEREMPUAN AIR
Dideras cakap yang menantang
Aku bisa menyentuhmu dalam gemetar yang tak sanggup
Ku biarkan tubuhku jauh dikepuncak langit
Meski keberanian ragu
Dalam menyemaimu serupa cahaya bulan
Aku tahu dirimulah air
Bening
Dan aku membutuhkannya
Ia tidak, ia tidak, ia tidak
Mungkin itu perkiraanmu yang belum usai
Dan tentangku kau belum tahu
Akulah uap, ikan, mendung, dan tanah sebagai unsur waktumu
Namun apa,
Untuk mencintai dan menyayangi
Mungkin sebuah larangan
Justru aku akan diam
Sebab kebenaran dalam rambu-rambu ini
Tak perlu diucap
Entah sebagai sajak atau kalimat-kalimat doa.
JULI 2014
HAO…..
Apa yang kulihat
Engkau dijauh
Engkau disitu
Engkau disini
Disini menjamuku
HAO…….
Jauh tak berjarak
Tubuh lautmu melela
Aku gunung, aku karang,
Aku tak tahu siapa
Ini aku, atau kau yang tak pernah sirna
DAN PEREMPUAN AIR
Aku diam diantara kekuatan pertanyaanmu
Menyatu dalam lurus, gesit pertanyaanmu
Dari tempat ketempat
Cerita dan cerita
Sisi ke sisi
Hati kenyata
Rasa keimpian
Dan harapan kebalas wayang bibirmu
Sebukan semi air haluan takdir
Tapi matahari
Matahari diterang langit yang tak bermendung
Indah langkahmu,
Indah tidurmu,
Indah mimpimu,
Adalah kalimat hidup ditubuhku
Oh, perempuan air ku
Kau seperti rahasia yang menyebutku pencerita
Dan kubercerita
Itulah alur diantara detak yang terahasia
Menahan silau dibelakang fikirmu
Dalam perjalannku menuju rumah kuat firasatmu
Dalam inginmu,
Dalam desahmu,
Dalam lekukmu
Dalam adamu diadaku
Yang kini tidak ada dikeramaian yang ada
Dan adaku masih dikebimbangan adamu
Yang kulekatkan di ubun, sungguh pengakuan jawabmu
Oh, perempuan air………..
Kelemahanku bukan dikala menegukmu
Tidak dipercik jauh terjunmu
Tidak di gigil guyur hujanmu
Tetapi ditelingaku yang hanya menyimak tawamu
Kali inipun
Aku riuh Tanya
Serupa Guntur, disebelum, atau usai angin.
Serta dimusim lainnya
PEREMPUANKU
Bar…
Alif layyin tubuhmu lentur
Seolah-olah pantai malam dimalamku
Bisik-bisik nafasmu membinarkanku
Menarik-narik mataku disuhu-suhu waktu
Lagi-lagi desah ombak
Keruh otakku
Bising tubuhku
Hingga jagat adalah tubuhmu cahaya mataku
Kau selalu disini
Tidur dsn mencari
Seprti luas taman bunga dengan lari-lari anginnya
Bar……….
Alif layyin tubuh airmu membilasku
Berilah sakal dahiku
Sambunglah huruf didadaku
Atau kau gigit bahuku
Dan lilit tubuhku dengan hasratmu
Suaramu, bibir selembut bulan
Membuatku sah, sih, suh
Aku peluh dikeras siang
Aku darah dilembut malam
Olehmu aku cakar dengan jari-jari rindu
“kita hening, kita sebab, kita adalah isyarat angin, meluruh dada dan segala rasa”
MASIH PUTIH
Tibi-tiba percakapan manis
Hening dada berbisik pada relung dalam renung
Mengusik mengeja angka
Sudahkah pada saatnya aku harus membusurmu dengan yakinku?
Terlalu jauh………….
Mampukah aku menerka
Sudah; inilah Ba’, Sin, Mim, Lam, Ha’.
Denyutku merinci dalam menjawab pertanyaanmu
Dan seharusnya aku yang meminta, bukan kau yang menanya.
Tapi begitulah karunia, harapan sebagai ilham
Hingga kubersujud setelah kudengar kalimat-kalimatmu
Terangkai mekar dari huruf-huruf hijaiyahku
Benar-benar dalam ruhku, untukmu
Kusemat lafad Tuhan, sebagai penguat tubuhku
Tubuhmu adalah basmalahku
Ya……….
Wahai yang maha Mulya
Inikah malam mu’jizat untukku?
Dan kurasakan sebagai firmanmu
Darinya hawa setelah sekian lama kau cipta
Dalam tafakurku
Dan segala doa tidaklah cukup mala mini
Engkau mendatangkannya sebagai firman-MU
PEREMPUANKU
Bar…
Alif layyin tubuhmu lentur
Seolah-olah pantai malam dimalamku
Bisik-bisik nafasmu membinarkanku
Menarik-narik mataku disuhu-suhu waktu
Lagi-lagi desah ombak
Keruh otakku
Bising tubuhku
Hingga jagat adalah tubuhmu cahaya mataku
Kau selalu disini
Tidur dsn mencari
Seprti luas taman bunga dengan lari-lari anginnya
Bar……….
Alif layyin tubuh airmu membilasku
Berilah sakal dahiku
Sambunglah huruf didadaku
Atau kau gigit bahuku
Dan lilit tubuhku dengan hasratmu
Suaramu, bibir selembut bulan
Membuatku sah, sih, suh
Aku peluh dikeras siang
Aku darah dilembut malam
Olehmu aku cakar dengan jari-jari rindu
“kita hening, kita sebab, kita adalah isyarat angin, meluruh dada dan segala rasa”

”SUHARNANIK, aktif di PAC IPPNU  dan PC sumenep
Teater Alif, sanggar wayang, teater SEPI, teater kopi , PMII country unitri malang, dan radio tri fm unitri malang”