25-februari-2015
AKU DAN PUISI DALAM
SEGALA SAJAK
PERTEMPURAN 14
JANUARI
Amnesia aku
mengingatmu EM
Sebab
perjuangan yang retak secara perlahan
Rambutku
resah, akupun tertawa dari waktu kewaktu
Dari lafadz
ke lafadz
Dari dzikir
ke dzikir
Dari sujud ke
doa
Dari doa menuai
angka
Dari angka ke
akar
Dari akar
kematriks
Dari matriks
kedeterminan
Aku
alpa..segala rumusmu EM
Aku tak
yakini ini akhir perjuangan
Meski
layaknya tukang tenun aku menyulammu
Angka-angka
memanjang dari urat yang tegang
Diperbatasan
kurva mengelilingi sumbu X
Sejauh tiga
ratus enam puluh derajat
Segala
risalah dan petuah para tertua
Aku
dongengkan disetiap ujung nafasku yang mengarat
Lagi-lagi aku
alpa segala rumus dan bahasa tubuhmu
Aku jadikan
aliran pena sebagai politik
Kedipan mata
sebagai perubahan
Taktik-taktik
immunisasi dan penjiplakan yang dulunya mustahil
Aku sanjung
menjadi hal yang nihil
EM
Aku tak kuasa
menghafal rumusmu
PEREMPUAN AIR
Dideras cakap
yang menantang
Aku bisa
menyentuhmu dalam gemetar yang tak sanggup
Ku biarkan
tubuhku jauh dikepuncak langit
Meski
keberanian ragu
Dalam
menyemaimu serupa cahaya bulan
Aku tahu
dirimulah air
Bening
Dan aku
membutuhkannya
Ia tidak, ia
tidak, ia tidak
Mungkin itu
perkiraanmu yang belum usai
Dan tentangku
kau belum tahu
Akulah uap,
ikan, mendung, dan tanah sebagai unsur waktumu
Namun apa,
Untuk
mencintai dan menyayangi
Mungkin
sebuah larangan
Justru aku
akan diam
Sebab
kebenaran dalam rambu-rambu ini
Tak perlu
diucap
Entah sebagai
sajak atau kalimat-kalimat doa.
JULI 2014
HAO…..
Apa yang kulihat
Engkau dijauh
Engkau disitu
Engkau disini
Disini
menjamuku
HAO…….
Jauh tak
berjarak
Tubuh lautmu
melela
Aku gunung,
aku karang,
Aku tak tahu
siapa
Ini aku, atau
kau yang tak pernah sirna
DAN PEREMPUAN AIR
Aku diam
diantara kekuatan pertanyaanmu
Menyatu dalam
lurus, gesit pertanyaanmu
Dari tempat
ketempat
Cerita dan
cerita
Sisi ke sisi
Hati kenyata
Rasa keimpian
Dan harapan
kebalas wayang bibirmu
Sebukan semi
air haluan takdir
Tapi matahari
Matahari
diterang langit yang tak bermendung
Indah langkahmu,
Indah
tidurmu,
Indah
mimpimu,
Adalah
kalimat hidup ditubuhku
Oh, perempuan
air ku
Kau seperti
rahasia yang menyebutku pencerita
Dan
kubercerita
Itulah alur
diantara detak yang terahasia
Menahan silau
dibelakang fikirmu
Dalam
perjalannku menuju rumah kuat firasatmu
Dalam
inginmu,
Dalam
desahmu,
Dalam lekukmu
Dalam adamu
diadaku
Yang kini
tidak ada dikeramaian yang ada
Dan adaku
masih dikebimbangan adamu
Yang
kulekatkan di ubun, sungguh pengakuan jawabmu
Oh, perempuan
air………..
Kelemahanku
bukan dikala menegukmu
Tidak
dipercik jauh terjunmu
Tidak di
gigil guyur hujanmu
Tetapi
ditelingaku yang hanya menyimak tawamu
Kali inipun
Aku riuh
Tanya
Serupa
Guntur, disebelum, atau usai angin.
Serta dimusim
lainnya
PEREMPUANKU
Bar…
Alif layyin
tubuhmu lentur
Seolah-olah
pantai malam dimalamku
Bisik-bisik
nafasmu membinarkanku
Menarik-narik
mataku disuhu-suhu waktu
Lagi-lagi
desah ombak
Keruh otakku
Bising
tubuhku
Hingga jagat
adalah tubuhmu cahaya mataku
Kau selalu
disini
Tidur dsn
mencari
Seprti luas
taman bunga dengan lari-lari anginnya
Bar……….
Alif layyin
tubuh airmu membilasku
Berilah sakal
dahiku
Sambunglah
huruf didadaku
Atau kau
gigit bahuku
Dan lilit
tubuhku dengan hasratmu
Suaramu,
bibir selembut bulan
Membuatku
sah, sih, suh
Aku peluh
dikeras siang
Aku darah
dilembut malam
Olehmu aku
cakar dengan jari-jari rindu
“kita hening,
kita sebab, kita adalah isyarat angin, meluruh dada dan segala rasa”
MASIH PUTIH
Tibi-tiba
percakapan manis
Hening dada
berbisik pada relung dalam renung
Mengusik
mengeja angka
Sudahkah pada
saatnya aku harus membusurmu dengan yakinku?
Terlalu
jauh………….
Mampukah aku
menerka
Sudah; inilah
Ba’, Sin, Mim, Lam, Ha’.
Denyutku
merinci dalam menjawab pertanyaanmu
Dan
seharusnya aku yang meminta, bukan kau yang menanya.
Tapi begitulah
karunia, harapan sebagai ilham
Hingga
kubersujud setelah kudengar kalimat-kalimatmu
Terangkai
mekar dari huruf-huruf hijaiyahku
Benar-benar
dalam ruhku, untukmu
Kusemat lafad
Tuhan, sebagai penguat tubuhku
Tubuhmu
adalah basmalahku
Ya……….
Wahai yang maha
Mulya
Inikah malam
mu’jizat untukku?
Dan kurasakan
sebagai firmanmu
Darinya hawa
setelah sekian lama kau cipta
Dalam
tafakurku
Dan segala
doa tidaklah cukup mala mini
Engkau
mendatangkannya sebagai firman-MU
PEREMPUANKU
Bar…
Alif layyin
tubuhmu lentur
Seolah-olah
pantai malam dimalamku
Bisik-bisik
nafasmu membinarkanku
Menarik-narik
mataku disuhu-suhu waktu
Lagi-lagi
desah ombak
Keruh otakku
Bising
tubuhku
Hingga jagat
adalah tubuhmu cahaya mataku
Kau selalu
disini
Tidur dsn
mencari
Seprti luas taman
bunga dengan lari-lari anginnya
Bar……….
Alif layyin
tubuh airmu membilasku
Berilah sakal
dahiku
Sambunglah
huruf didadaku
Atau kau
gigit bahuku
Dan lilit
tubuhku dengan hasratmu
Suaramu,
bibir selembut bulan
Membuatku
sah, sih, suh
Aku peluh
dikeras siang
Aku darah
dilembut malam
Olehmu aku
cakar dengan jari-jari rindu
“kita hening,
kita sebab, kita adalah isyarat angin, meluruh dada dan segala rasa”
”SUHARNANIK, aktif di PAC IPPNU dan PC sumenep
Teater Alif, sanggar wayang, teater
SEPI, teater kopi , PMII country unitri malang, dan radio tri fm unitri malang”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar